Minggu, 03 Februari 2013

(kisah nyata) Kisah Mengharukan Anak Amerika Yang Masuk Islam

ini foto2nya gan biar gak dibilang hoax.







Kisah spiritual anak
amerika yang memeluk
islam hanya karena dia
baca mengenai buku
Islam, setelah
sebelumnya orang tuanya memberinya
semua buku semua
agama yang ada di dunia,
Orang tua mutusin agar
anaknya sendiri yang
memilih agamanya. Rasulullah saw
bersabda: ”Setiap bayi
yang dilahirkan dalam
keadaan fitrah. Maka
kedua orang tuanyalah
yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani,
atau Majusi.” (HR.
Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini
tidak lain adalah sebuah
bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz
dilahirkan dari kedua
orang tua Nasrani pada
tahun 1990 M. Sejak awal
ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya
memilih agamanya jauh
dari pengaruh keluarga
atau masyarakat. Begitu
dia bisa membaca dan
menulis maka ibunya menghadirkan untuknya
buku-buku agama dari
seluruh agama, baik
agama langit atau agama
bumi. Setelah membaca
dengan mendalam, Alexander memutuskan
untuk menjadi seorang
muslim. Padahal ia tak
pernah bertemu muslim
seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada
tingkatan dia
mempelajari sholat, dan
mengerti banyak hukum-
hukum syar’i, membaca
sejarah Islam, mempelajari banyak
kalimat bahasa Arab,
menghafal sebagian
surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu
dengan seorang muslimpun. Berdasarkan
bacaan-bacaan tersebut
dia memutuskan untuk
mengganti namanya yaitu
Muhammad ’Abdullah,
dengan tujuan agar mendapatkan
keberkahan Rasulullah
saw yang dia cintai sejak
masih kecil.
Salah seorang wartawan
muslim menemuinya dan bertanya pada bocah
tersebut. Namun,
sebelum wartawan
tersebut bertanya
kepadanya, bocah
tersebut bertanya kepada wartawan itu,
”Apakah engkau seorang
yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata:
”Tidak”. Namun sang
wartawan dapat merasakan kekecewaan
anak itu atas
jawabannya.
Bocah itu kembali
berkata , ”Akan tetapi
engkau adalah seorang muslim, dan mengerti
bahasa Arab, bukankah
demikian ?”. Dia
menghujani wartawan itu
dengan banyak
pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan
ibadah haji ? Apakah
engkau telah menunaikan
’umrah ? Bagaimana
engkau bisa
mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian
ihram tersebut mahal ?
Apakah mungkin aku
membelinya di sini,
ataukah mereka hanya
menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa
sajakah yang engkau
alami, dengan
keberadaanmu sebagai
seorang muslim di
komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu
menjawab sebisanya,
anak itu kembali
berbicara dan
menceritakan tentang beberapa hal berkenaan
dengan kawan-kawannya,
atau gurunya, sesuatu
yang berkenaan dengan
makan atau minumnya,
peci putih yang dikenakannya, ghutrah
(surban) yang dia
lingkarkan di kepalanya
dengan model Yaman,
atau berdirinya di kebun
umum untuk mengumandangkan adzan
sebelum dia sholat.
Kemudian ia berkata
dengan penuh
penyesalan, ”Terkadang
aku kehilangan sebagian sholat karena
ketidaktahuanku tentang
waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu
bertanya pada sang
bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada
Islam ? Mengapa engkau
memilih Islam, tidak yang
lain saja ?” Dia diam
sesaat kemudian
menjawab. Bocah itu diam sesaat
dan kemudian menjawab,
”Aku tidak tahu, segala
yang aku ketahui adalah
dari yang aku baca
tentangnya, dan setiap kali aku menambah
bacaanku, maka semakin
banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya
kembali, ”Apakah engkau
telah puasa Ramadhan ?” Muhammad tersenyum
sambil menjawab, ”Ya,
aku telah puasa
Ramadhan yang lalu
secara sempurna.
Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya
aku berpuasa di
dalamnya. Dulunya sulit,
terlebih pada hari-hari
pertama”. Kemudian dia
meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa
aku tidak akan mampu
berpuasa, akan tetapi
aku berpuasa dan tidak
mempercayai hal
tersebut”. ”Apakah cita-citamu ?”
tanya wartawan
Dengan cepat
Muhammad menjawab,
”Aku memiliki banyak
cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi
ke Makkah dan mencium
Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan
bahwa keinginanmu untuk
menunaikan ibadah haji adalah sangat besar.
Adakah penyebab hal
tersebut ?” tanya
wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk
pertama kalinya ikut angkat bicara, dia
berkata : ”Sesungguhnya
gambar Ka’bah telah
memenuhi kamarnya,
sebagian manusia
menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat
sekarang hanyalah
semacam khayalan,
semacam angan yang
akan berhenti pada
suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui
bahwa dia tidak hanya
sekedar serius,
melainkan mengimaninya
dengan sangat dalam
sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan
oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di
wajah Muhammad
’Abdullah, dia melihat
ibunya membelanya. Kemudian dia
memberikan keterangan
kepada ibunya tentang
thawaf di sekitar Ka’bah,
dan bagaimanakah haji
sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama
manusia sebagaimana
Tuhan telah menciptakan
mereka tanpa
memandang perbedaan
warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad
meneruskan,
”Sesungguhnya aku
berusaha mengumpulkan
sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar
aku bisa pergi ke Makkah
Al-Mukarramah pada
suatu hari. Aku telah
mendengar bahwa
perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4
ribu dollar, dan sekarang
aku mempunyai 300
dollar.”
Ibunya menimpalinya
seraya berkata untuk berusaha menghilangkan
kesan keteledorannya,
”Aku sama sekali tidak
keberatan dan
menghalanginya pergi ke
Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang
untuk mengirimnya dalam
waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang
lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke
tangan kaum muslimin. Ini
adalah bumi mereka yang
dicuri oleh orang-orang
Israel (Yahudi) dari
mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat
kepadanya dengan
penuh keheranan. Maka
diapun memberikan
isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi
perdebatan antara dia
dengan ibunya sekitar
tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu,
engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah,
sungguh benar-benar
telah terjadi
perampasan terhadap
Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita
lain ?” tanya wartawan
lagi.
Muhammad menjawab,
“Cita-citaku adalah aku
ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al
Quran.”
“Apakah engkau
berkeinginan belajar di
negeri Islam ?” tanya
wartawan Maka dia menjawab
dengan meyakinkan :
“Tentu”
”Apakah engkau
mendapati kesulitan
dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau
menghindari daging
babi ?”
Muhammad menjawab,
”Babi adalah hewan yang
sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat
heran, bagaimanakah
mereka memakan
dagingnya. Keluargaku
mengetahui bahwa aku
tidak memakan daging babi, oleh karena itu
mereka tidak
menghidangkannya
untukku. Dan jika kami
pergi ke restoran, maka
aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak
memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di
sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat
sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku
shalat di sana setiap
hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah
waktu shalat maghrib di
tengah wawancara. Bocah itu langsung
berkata kepada
wartawan,”Apakah
engkau mengijinkanku
untuk mengumandangkan
adzan ?” Kemudian dia berdiri dan
mengumandangkan
adzan. Dan tanpa terasa,
air mata mengalir di
kedua mata sang
wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah
itu menyuarakan adzan.
Suhanallah.
jika berkenan jangan lupa koment ato share dan terima kasih atas kunjunganya

Sumber

2 komentar: